Cermin
Cermin beberkan fakta, Hardan kecil jenaka langsung berhadapan dengan Hardan dewasa yang sengsara. Dia kecil belum merasakan kerasnya dunia. Hardan kecil bertanya, “Kenapa jadi bisa sengsara?? Apa dewasa enak? Aku mau dewasa!! Biar aku boleh ngapain aja.” Hardan dewasa gelak tawanya, dia kecil memang banyak bicara? Hardan tarik nafas, karena banyaknya beban jadi gak bisa bebas.
“Bentar bro, santai. Pertanyaan pertama lo, kenapa bisa sengsara? Karena beban dibahu gua, udah terlalu besar dan gua sendiri gabisa asal-asalan. Gua butuh waktu, buat bisa keluarin satu satu.” Hardan kecil mengangguk, belaga paham situasi, dia tarik pernyataan si dewasa. “Tapi, kamu hancurin mimpiku,” tutur dia, bikin si dewasa menundukkan kepala.
“Harusnya kamu jangan hancurin mimpiku, aku emang gatau gimana orang dewasa berkerja. Gimana orang dewasa selesaikan masalah mereka ... tapi aku juga punya mimpi yang sama, aku juga mau Hardan dewasa bahagia.” Yang dewasa naikkan kepala, hanya bisa berkata, “Maaf ya.” Hardan kecil menyipitkan matanya, dia bahkan lebih muda tapi kenapa yang di sana malah menangis lebih parah darinya.
“KOK KAMU NANGIS?? Maaf, kata kata aku kasar ya? ADUH, bunda pasti marahin aku! Jangan nangis, nanti aku beliin permen. AKU SERIUS!! KOK KAMU KETAWA??” Jelas, Hardan dewasa gak bisa tahan tawa, dia kecil memang sejenaka ini ternyata. “HAHAHA, lo lucu banget. Aduh, gua cuman nangis karena Hardan kecil sedewasa itu.”
Yang kecil gembungkan pipi, dia malu dipuji. “Aku emang lucu! Udah ah, jangan nangis. Waktu kamu masih panjang kok! Tolong Hardan dewasa, gunakan waktu ya? Aku masih suka minum susu di dot ... jadi, aku gamau dewasa dulu, soalnya kata Bunda kalo dewasa aku gabisa minum susu. Tolong bahagia, tolong wujudkan mimpiku.” Hardan dewasa jelas tersenyum, dia anggukan kepala.
“Gua usahakan ya? Hardan kecil, jaga Bunda. Jangan nakal nakal, setauku lo masih suka coret coret dinding kamar ya? Jangan gitu, Bunda nanti marah. Tolong Hardan kecil, jaga bunda kita.”
Hardan kecil memberikan jari kelingkingnya, yang dewasa masih ingat, itu ciri khas kalo dia berjanji atas apapun yang dia omongkan. “Janji ya? Kalo ga janji, bakal ada raksasa gigit kamu!” Hardan anggukan kepala, dia berjanji akan usahakan semuanya. “Janji!”
Dan, selesailah sesi antar sang dewasa dan yang bahkan belom menginjak kata belia. Semoga mereka bisa menempatkan janji agar bahagia.
bagus cerpen nya saya suka, tingkatkan
BalasHapusBagus sekalih 💓💓
BalasHapussangat baguusss🤩😍
BalasHapusceritanya sangat menarikk
BalasHapusKereeennn banget....
BalasHapus